Bergerak atau Diam

sumpah_pemuda
Sumber gambar: https://goo.gl/oHozRQ

Bergerak atau Diam

Mahasiswa adalah sosok yang anggun dan berintelektual tinggi dalam menjunjung kualitas keilmuan dan menjaga amanat dalam berperilaku budi luhur. Sebuah asumsi yang kerap kali diujarkan mahasiswa senior kepada mahasiswa baru College student is  agent of change (Mahasiswa adalah agen perubahan). Ya, benar sekali, ujaran-ujaran provokatif tersebut akan banyak terdengar nanti ketika mahasiswa baru mulai memasuki dunia perkampusan. Namun, stigma yang beredar dalam orbit masyarakat bahwasanya mahasiswa hanya sekelompok manusia pintar namun orang yang dzolim atau tidak menempatkan sesuatu sebagaimana mestinya. Mungkin sebagian akan bertanya-tanya, sebenarnya mahasiswa itu di pilihan yang pertama atau kedua?. Mari kita ulas dan menilik sejenak perjalanan mahasiswa yang berintelektual tinggi, berbudi luhur, cakap dan bertanggung jawab.

 Memahami bahwa sesungguhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang paham terhadap sistem demokrasi, di mana kekuasaan yang sesungguhnya di tangan rakyat. Mengapa disebut demikian? Karena, sejatinya salah satu faktor yang menyebabkan berdirinya sebuah negara yakni adanya rakyat. Negara mempunyai wilayah, sistem pemerintahan dan lain-lain namun tak mempunyai rakyat sama saja itu bohong. Jadi, peran rakyat dalam negara amat sangatlah penting. Sehingga, NKRI lebih tendensi dalam sistem pemerintahan demokrasi yang mengedepankan kepentingan rakyat dibanding kepentingan lain. Maka, tak heran jika banyak rakyat yang demontrasi/unjuk rasa semenjak nusantara ini dijuluki NKRI oleh para founding father’s. Sisi yang harus bisa dipandang dan dipahami oleh mahasiswa generasi sekarang adalah bahwa sejarah mahasiswa dulu yang berlalu lalang hingga saat ini mereka merupakan sosok yang sangat berkomitmen dan aktivisme, yang pada saat itu sanggup meruntuhkan rezim presiden soeharto.

 Sosok mahasiswa yang berkharisma dan berintelektual sesungguhnya sudah tercapai ketika dia sudah memasuki dunia perkampusan kelak. Karena, sistem kehidupan yang diajarkan di bangku sekolah dasar, menengah pertama, menengah atas akan banyak terasa perbedaan. Mulai dari sistem kbm, unit, birokrasi, problematika, dan penunjang keilmuan akan banyak terasa perbedaanya. Ketika menjadi mahasiswa, kualitas keilmuannya akan terasa berbeda dari sebelumnya jika dia belajar dengan sungguh-sungguh karena, faktor penunjangnya dari aspek usia, belajar, diskusi, istiqomah dan prioritaskan untuk berdoa. Namun, jangan beranggapan kalau aktivis hanya sekelompok massa yang aktif dalam kegiatan sosial. Aktivis yang sesungguhnya adalah sekelompok massa yang aktif, kritis, analitis, solutif terhadap orbit sosial di kemasyarakatan dan aktivispun sebenarnya dia adalah sosok yang organisatoris. Mengapa dikatakan demikian? Karena, sejatinya aktivis tetap menjadi makhluk sosial di orbit masyarakat dengan implementasi ekspresionime yang dimiliki mahasiswa masing-masing dan tidak meninggalkan kewajibannya untuk tetap menuntut ilmu di kampus, maka dengan itu aktivis kerap disebut organisatoris karena sadar diri siapa dia, sadar posisi sedang di manakah dia, dan sadar sebab dia menjadi aktivis.

Sepanjang jauh perjalanan transformasi organisasi kampus dari zaman ke zaman dalam tiap periodenya menghasilkan perolehan yang cukup memuaskan. Organisasi ekstra kampus itu antara lain HMI, PMII, IMM, KAMMI, GMNI, GPPI dan lain sebagainya. Salah satu organisasi kampus yang masih tetap eksis hingga kini seperti PMII dengan tetap menunjukkan eksistensinya sebagai wadah bagi mahasiswa islam. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang disingkat menjadi PMII.

PMII merupakan organisasi yang dinaungi oleh Nadhatul Ulama yang saat itu ditetapkan pada Muktamar NU ke-33 di Jombang. PMII merupakan kawah candradimuka yang menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI. Organisasi yang berdiri di Surabaya pada 19 April 1960 ini menjadi organisasi yang tetap eksis walaupun harus mengahadapi hiruk-pikuk dalam perkembangannya di Indonesia. Organisasi ini pada mulanya diketuai oleh Sahabat Mahbub Djunaidi yang sesungguhnya saat itu tidak hadir, namun berkat wejangan dari Ketua Umum PBNU msks terpilihlah Sahabat Mahbub Djunaidi sebagai ketua umum PMII yang pertama.

Sejarah mengungkapkan bahwa PMII mengalami masa perkembangan sangat pesat ketika diketuai oleh Sahabat Mahbub Djunaidi dan Sahabat Zamroni. Perkembangan pesat dilampaui oleh PMII semasa diketuai oleh Sahabat Zamroni perwakilan kader dari PMII Cabang Ciputat jika dipandang dari segi jumlah cabang PMII yang saat itu hampir 120 Cabang suatu prestasi yang membanggakan bagi PMII terlebih bagi kader PMII yang berproses di Ciputat.

PMII menjadi wadah bagi segala kalangan mahasiswa muslim agar tetap terjalin silaturrahim sebagaimana mestinya yang telah diajarkan oleh suri tauladan kita yakni Nabi Muhammad SAW. PMII yang berideologi Ahlussunnah Wal Jama’ah mengajak kepada setiap mahasiswa muslim untuk senantiasa tetap menjalankan sunnah-sunnah nabi.

Mahasiswa yang tak pernah berkecimpung dalam dunia organisasi mungkin takkan tahu betapa kerasnya kehidupan sesungguhnya ketika nanti menjadi bagian dari orbit masyarakat. Mahasiswa yang sejati adalah mahasiswa yang aktif dalam berbagai organisasi. Maka, tunggu apa lagi? Bergabunglah dengan PMII sesegera mungkin, kelak engkau akan tahu betapa bermanfaatnya mengikuti organisasi. Tunggu apalagi.? AYO GABUNG PMII..!!!

 

Iklan
Dengan kaitkata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s