DIALOG IMAJI DENGAN SANG PELOPOR ANGKATAN ‘45

artworks-000034877594-4smqmg-crop
Sumber gambar: https://goo.gl/gczemv

Pagi cerah disambut kicau burung gelatik di tangkai-tangkai pohon sengon kala itu. Sang surya mencubit kulit dirasa kulit ini. Ternyata awan telah tersenyum menjawab kicuan burung-burung itu, cubit demi cubit surya menyinari batang-batang hingga daun sengon itu, sembari memberi kabar pada burung jika pagi telah berlalu. Sang surya mulai beranjak menengah khalayak seorang menaiki tangga yang hendak meninggalkan menjauhi.

Kala itupun kugendongkan tas menuju tempat di mana sang pelopor dibaringkan. Tak mengapa diri ini seperti dihujani rasa bimbang tak karuan. Hendak ke kanan hendak ke kiri, seperti tak punya arah dan tujuan. Seorang mahasiswa yang tak berpendirian , kata orang yang merasa diri sebagai kaum intelek. Keresahan itu timbul secara berkelanjutan hingga sampainya aku di stasiun pondok ranji. Merasa sebagai kaum yang gandrung akan sosial, kucoba menghadapi realita jika aku harus ditinggal rombongan berangkat dahulu. Seorang mahasiswa yang peduli akan sosial walau prioritas terhadap golongannya.

Perjalanan yang kutempuh merupakan perjanalan yang bukan dianggap remeh, mengapa? Jika rombongan melakukan safari dengan kereta malah jalan yang kutempuh menggunakan sepeda motor alias hanya berdua saja. Meneduh, menanti, memandang, dan mengharap hujan reda yang diharapkan segolongan yang berada di sampingku. Hujan semakin deras, kurasa hujan semakin jatuh tak karuan. Kulantunkan dalam doaku “hujan jangan marah, hujan jangan marah, hujan jangan marah”. Indikasi bahwa saat itu hujan sedang bergembira ria menjatuhi bumi yang telah dicubit surya beberapa jam lamanya.

Hujan semakin menggila seakan tak ada ampun pada sang surya yang telah lamanya menyinari bumi. Bumi mengaung seakan tak terima dijatuhi air hujan terus menerus, anginpun ikut membantu bumi yang terhujam air dengan meniup menjauhkan air hujan dari bumi. Tapi, naas! Apa yang terjadi? Malah air hujan berkumpul di atas genting-genting rumah, ruko, serta bangunan lainnya. Air hujan melebihi dari tetesan, malah guyuran yang didapatinya. Tanah mengubang lumpur seperti kolam ikan rupanya. Hujan mulai tenang, dia berjalan menjauhi bumi ternyata.

Kupacu roda duaku hingga kudapati Taman Pemakaman Umum Karet Bivak sudah di dekatku. Tempat yang bukan asing bagiku sebenarnya. Pernah kudatangi kurang lebih setahun yang lalu, tuk mengunjungi persinggahan pelopor angkatan ’45 dan sang maestro lekra. Kudapati rombongan telah usai melakukan ziarah di makam pelopor angkatan ’45 rupanya. Mereka sedang bergurau ria dengan sengat matahari ternyata sembari mengeluarkan pemotret kesayangan mereka. Kulihat sebagian rombongan ada yang melakukan ibadah di musholla di luar TPU, ohh.. ternyata mereka masih ingat kebutuhan rohani mereka. Rombongan bertanya padaku “dari mana saja kau?” tanyanya kujawab dengan candaan “habis narik uber”. Kataku sontak membuat mereka tertawa gelak karena melihat helm yang kupakai bertuliskan uber. Kewajibanku belum tertuntaskan, baru saja datang. Kulaju masuk ke TPU.

Angin mulai mencambuk kulit serta rambutku ternyata. Padahal pepohonan tidak jauh ubahnya dari setahun yang lalu. Namun, mengapa angin terasa sejuk seperti ini, udara panas berkat pengaruh pemanasan global bercampur khalayak es campur seperti mengikat rasa. Ingin dikatakan panas, namun sejuk. Ingin dikatakan sejuk, namun panas. Apa maksud semua ini? Ternyata ini hanya sebuah ilusi! Tergantung siapa yang meraskan, jika dia hendak merasa panas, maka panaslah. Jika dia hendak merasa  sejuk, maka sejuklah.

Kujejakkan kakiku di atas rumput makam sambil menghirup udara di rumah persinggahan terakhir bagi manusia. Langkah demi langkah kuayunkan kakiku berzig-zag melewati kijing yang menjadi patokan liang lahad. Memandang jauh makam sang pelopor angkatan ’45, terlihat pucuk penanda makam sang pelopor yang membedakan dengan makam yang lain. Kudekati makam dan kubaca ukiran yang tertulis di atas makam “di sini berbaring penjair CHAIRIL ANWAR pelopor angkatan ’45 wafat Djakarta, 28 April 1949”.

Memandang makam sang pelopor terbesit jika aku harus mendoakannya, semoga jasa-jasanya tidak dibelokkan oleh sejarah, supaya jasanya menjadi suatu peristiwa yang abadi, supaya syair-syairnya tetap hidup dalam jiwa sastrawan, supaya dia diampuni segala kesalahan dia yang sengaja maupun tidak sengaja. Kududuk dan silangkan kakiku supaya khusyuk doa yang kupanjatkan. Doa yang tidak mempersulit, cukup membacakan dia surah al-fatihah khususkan untuk sang pelopor sudah membuat dia tentram di alam sana.

Teringat pula karya sang pelopor sebelum dia wafat kala itu yang berjudul “Yang Terampas dan Yang Putus”. Kubaca dan kuhayati seakan imajiku sedang membaca karyanya di depan pengarangnya pula.[1] Imajinasku semakin menggila layaknya sorang butuh sekali air minum, seperti melihat bayangan sang maestro di depan mata, seperti maestro sedang memandangku, sang pelopor tersenyum padaku, sang pelopor bangga padaku, sang pelopor beri tepuk tangan padaku. Betapa gilanya imajinasiku kala itu, sekejap sang maestro berkata “Sudah cukup!”. Kurampungkan baca puisiku sesudah sang maestro memberhentikanku. Imajiku malah semakin mengila, dia seperti menceritakan kehidupannya. Namun, tak dapat kupahami maksudnya itu. Kukaitkan puisinya denga citraan yang kurasakan saat di pemakaman itu.

Kurasakan jika di dalam puisi sang pelopor sudah merasakan alam yang berbeda di TPU Karet sebelum ajalnya menjemput. Dia seperti sudah memvisualkan jika di karet dia akan tentram, suasana yang sejuk tidak terlalu rindang dan sebagainya. Pada akhirnya dia seolah menceritakan padaku jika dia hanya mau dimakamkan di TPU Karet. Imajinasiku yang gila memberontak dengan logikaku, seperti dalam mimp gumamku. Kutegaskan dalam otakku “Ini Hanya Imajinasi!!”. Kujauhkan kaki dan kulangkahkan menjauh dari persinggahan sang pelopor, dari kejauhan dia seolah melambaikan tangannya dan mengatakan “Hati-hati! Jangan lupa kembali!” terasa sekali imajinasiku semakin tak karuan. Segeralah kuarahkan tujuanku ke makam sang maestro lekra.

Kupacu motor dan telah sampai kulewati makam pahlawan Husni Thamrin. Kutolehkan pandangan ke kiri kemudian ke kanan. Kupandang dan kubaca tertulis nama di nisan yang tak kukenali. Teriak seorang juru kunci yang berpakaian aneh lalu berkata “Mas nyari makamnya pram toh”? jawabku “Oiya padk benar sekali, kok bapak tau”? kemudian dijawabnya “Iya tau lah mas, kan mas yang dulu datang sendiri ke sini kan! “sama teman saya pak” sambutku. “Itu mas makamnya pram, itu rumputnya baru di ganti” kata juru kunci. Keanehan muncul seketika itu, linglung tak karuan rasanya. Gumamku dalam hati “bagaimana bisa seorang bapak tua mengingatku kalau setahun lalu aku pernah ke sini!”. Sungguh keajaiban, keanehan, atau ingatannya yang kuat. Setahun bukanlah yang cepat bagiku, kedatangan peziarah setahun tidaklah sedikit, namun bapak tua ini mengingatku secara fisik yang sangat sempurna. Kenaehan yang sempurna.

Doa kulantunkan lagi untuk sang maestro lekra dengan membacakannya al-fatihah sama halnya dengan doa yang kubacakan untuk sang pelopor angkatan ’45. Namun, yang membuatku berkesan adalah kata-kata terakhir pramoedya ananta toer yang diukirkan di atas nisan “Pemuda Harus Melahirkan Pemimpin”. Sontak kata-kata itu menggugah ghirahku untuk melanjutkan perjuangan sastrawan-sastrawan Indonesia. Sang surya mulai merangkak ke ujung barat, menuju tempat peraduan, angin semakin semilir mengitari badan, burung-burung mulai beterbangan entah ke mana hingga kuakhirkan perjalananku dengan menjalankan kewajiban ibadahku.[]

Jakarta, 6 November 2017

 

[1] Lihat di https://youtu.be/VzEmIEoDZV0 Pembacaan Puisi “Yang Terampas dan Yang Putus” karya Chairil Anwar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s